Modus-Modus Penyelundupan Burung
Burung merupakan jenis satwa yang paling diminati oleh kolektor karena kemerduan suaranya, keindahan bulu-bulu, maupun karena bentuknya yang eksotis. Seringkali faktor kelangkaan burung juga menjadi nilai ekonomis yang tinggi. Cucak Rowo dikenal memiliki harga mencapai jutaan rupiah karena suaranya yang sangat merdu. Demikian pula berbagai jenis kakatua yang dikenal memiliki nilai jual tinggi karena kemampuannya menirukan suara. Kasuari atau Bangau Tongtong sebenarnya memiliki bentuk yang ‘ugly’, namun karena bentuknya yang nyentrik tersebut, burung-burung itu menjadi incaran para kolektor.
Sayangnya, karena perdagangan burung yang luar biasa marak, dan tidak diimbangi dengan kemampuan berbiak yang seimbang di alam, banyak burung mengalami penurunan populasi drastis di alam. Maka terbitlah peraturan yang membatasi bahkan melarang perdagangan burung-burung tertentu, dengan harapan akan mengembalikan populasi stabil di alam. Indonesia sejak tahun 1999 menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar. Di dalam lampiran PP tersebut memuat daftar panjang satwa dilindungi, termasuk di dalamnya ada 93 jenis dan marga burung. Pekara melarang tentunya bukan hal yang mudah.
Meskipun dalam UU No. 5 Tahun 1990 jelas sekali menyatakan bahwa siapa saja yang memburu, memiliki, dan memperdagangkan satwa dilindungi akan diancam penjara maksimal 5 tahun dan denda 100 juta rupiah, masih banyak orang yang mencoba menyelundupkan burung dari suatu tempat ke tempat lain. Penyelundupan burung ini tidak mengenal batas, bisa lintas propinsi, pulau, bahkan Negara, atau benua. Untuk mengelabui deteksi petugas, penyelundup menggunakan berbagai cara.
Polisi kehutanan di pulau Sumatera sering menangkap penyelundup yang menggunakan keranjang kue untuk menyembunyikan burung dari pemeriksaan petugas. Mereka naik mobil travel atau bus malam untuk mengurangi resiko pemantauan petugas di terminal atau pelabuhan. Modus ini beresiko tinggi terhadap kematian burung. Tahun 2008, lebih dari 60 ekor Kacer (Copsychus saularis) mati kehabisan oksigen karena ditaruh di kotak kardus sempit di dalam bagasi bus malam.
Tahun 2009, BKSDA DKI dan polisi bandara Soekarno Hatta menangkap penyelundup yang mencoba membawa belasan anak elang yang disembuyikan dalam kardus berlubang dan koper. Modus penyelundupan kakatua yang paling sering dipakai adalah menggunakan bamboo, paralon, atau botol air mineral. Untuk membuat burung yang dikenal berisik itu diam sepanjang perjalanan, penyelundup biasa menggunakan ramuan bumbu dapur.
Petugas beacukai (Custom) Australia di tahun 2008 pernah menangkap penyelundup perempuan yang menyembunyikan burung lebih dari 10 di kaus kaki yang telah dimodifikasi. Di tahun yang sama, petugas menangkap penyelundup telur burung kakatua yang menyembuyikan puluhan telur di sebuag rompi yang dimodifikasi untuk dipasang di perut, sehingga menjaga suhu telur tetap hangat dan tidak rusak ketika sampai di tujuan. Bahkan laporan terakhir menyebutkan penyelundup memasukkan telur burung ke dalam celana dalam. Fungsinya sama, menjaga telur tetap hangat dan menghindari deteksi petugas. Bisa dibayangkan seandainya telur tersebut pecah atau menetas!
Saku celana atau jaket sering dipakai penyelundup untuk membawa burung berukuran kecil atau telur burung melewati deteksi petugas bandara. Kuncinya adalah tidak membawa benda metal yang akan membunyikan alarm di check point. Petugas tidak pernah melakukan pengecekan terhadap penumpang pesawat sepanjang alarm tidak berbunyi. Modus ini dipakai untuk menghindari pemindaian X-ray yang akan menampakkan cangkang telur atau kerangka burung.
Modus lain adalah mencampurkan burung yang tidak dilindungi dengan burung dilindungi yang mempunyai kemiripan corak warna dan bentuk tubuh. Misalkan mencampur Nuri Kepala Hitam (Black-capped Lory) dengan jenis nuri lain. Cara ini sering dipakai untuk menyelundupkan burung nuri yang berasal dari Indonesia bagian Timur. Penyelundup paham betul bahwa tidak semua petugas mempunyai kemampuan identifikasi yang baik. Kemiripan corak warna dan bentuk tubuh akan membingungkan petugas dalam melakukan identifikasi. (dna)[mappress]




Info yang sangat menarik, terima kasih telah berbagi…trims